BMKG Mengedukasi Petani Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

• Selasa, 9 Jul 2019 - 00:00 WIB
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (kedua dari kanan) berbincang dengan Anggota DPR Komisi V Sudjadi (kedua dari kiri)

Petani di Desa Ngadirejo Temanggung, Ma'ruf awalnya mengira, hujan salah mongso atau hujan salah musim, tak bisa dihindari saat proses bertani.

Dia tak tahu sama sekali tentang ilmu pengetahuan di bidang iklim, yang dapat membantunya beradaptasi untuk memutuskan apakah akan menanam atau menunda.

Pada April lalu, Ma'ruf mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap 3 yang diadakan oleh Badan Meteorologi, Kimatologi, dan Geofisika (BMKG), bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.

Ma'ruf menerangkan, "Kami belajar tentang perubahan iklim, kalau dulu kan disebut hujan salah mongso (musim), ternyata bukan soal hujan salah mongso, tetapi memang siklusnya."

Dalam 3 bulan SLI tahap 3, para kelompok tani menerapkan pola bercocok tanam berdasarkan saran dan rekomendasi penyuluh lapang pertanian dan dibekali info kondisi iklim yang sedang terjadi pada satu musim tanam dari tim BMKG.

Dengan konsep "belajar dengan melakukan" (Learning by doing) & "belajar dengan mengalami" (Learning by experiencing), para peserta dapat memahami pengamatan suhu, kelembaban udara, bahkan diajak langsung melihat peralatan BMKG.

Dari banyaknya pengetahuan iklim yang didapat, Ma'ruf yakin dapat menerapkan dan membagikan kepada teman-teman petani.

"Mengamati curah hujan, dengan menggunakan alat ukur, itu ilmu yang paling berguna. Sebelumnya tidak tahu sama sekali," cerita Ma'ruf.

SLI merupakan respon kongkret BMKG dalam mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim.

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, rata-rata produktivitas di SLI Temanggung mencapai 6.8 Ton/Ha.

Apabila dibandingkan dengan hasil rata-rata Kecamatan sebesar 6.1 Ton/Ha, tentunya hasil ini masih diatas rata-rata mengingat beberapa serangan hama. 

"Sekolah Lapang Iklim di Prov. Jawa Tengah khususnya di Kab. Temanggung ini tidak saja dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai iklim, tetapi lebih jauh dampaknya dapat meningkatkan produktivitas pertanian kita," harap Dwikorita. 

Sejak tahun 2011 SLI telah diadakan secara bertahap di provinsi sentra pangan Indonesia sebagai bentuk pendekatan literasi iklim guna mengurangi resiko iklim ekstrim. Literasi tersebut memanfaatkan isi informasi iklim di bidang pertanian. 

 

(*)