Brimob Yang Melakukan Penyiksaan Saat Kerusuhan 21-23 Mei Segera Disidang

• Tuesday, 9 Jul 2019 - 18:39 WIB

Jakarta - Perwakilan Amnesty International Indonesia hari ini menemui Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono untuk membicarakan perkembangan penyidikan kasus kerusuhan 21-23 Mei 2019.

 

Dalam pertemuan itu Kapolda Metro Jaya berjanji akan menindak dan segera menyidang anggota Brimob yang melakukan penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya terhadap warga, tidak hanya di Kampung Bali, tapi juga di beberapa titik lainnya di Jakarta seperti yang sebelumnya telah didokumentasikan Amnesty International.

 

Dalam pertemuan ini tim Amnesty International Indonesia juga menyerahkan hasil investigasi internalnya yang menemukan bukti bahwa anggota Brimob melakukan penyiksaan setidaknya terhadap 12 orang di tiga titik di Jakarta, termasuk di Kampung Bali, Jakarta Pusat. Turut hadir dalam pertemuan, jajaran Polda Metro Jaya termasuk diantaranya Kapolres Jakarta Pusat dan Kapolres Jakarta Barat yang menangani secara langsung kasus-kasus terkait peristiwa 21-23 Mei 2019.

 

Kapolda berkomitmen untuk menyelesaikan semua kasus kekerasan yang melibatkan anggotanya dan segera menyidangkan mereka. Amnesty International mengapresiasi komitmen yang diberikan oleh Kapolda dalam pertemuan tersebut.

 

Amnesty International Indonesia juga meminta agar semua kasus kekerasan lainnya, termasuk penyerangan asrama polisi di Petamburan, Jakarta Barat segera dituntaskan dan dibawa ke pengadilan dengan sepenuhnya memastikan bahwa hak-hak mereka yang ditetapkan sebagai tersangka juga dijamin.

 

Hal ini penting agar proses hukum oleh kepolisian berlangsung secara profesional, modern, dan terpercaya oleh masyarakat luas, khususnya terkait apa yang terjadi pada 21-23 Mei. Amnesty International juga berharap jika pemeriksaan internal polisi terkait anggota Brimob yang melakukan penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya menemukan unsur pidana maka harus dibawa ke pengadilan.  

 

Kapolda menekankan bahwa polisi telah memberikan hukuman disiplin berupa penahanan 21 hari bagi 10 anggota Brimob yang melakukan penganiayaan dan perlakuan buruk lainnya di areal smart service parking di Kampung Bali. Saat ini Polda Metro Jaya sedang melakukan proses pemeriksaan terhadap anggota Brimob yang melakukan penyiksaan di beberapa titik lainnya di Jakarta.

 

Dalam pertemuan tersebut, tim Amnesty International juga berdiskusi dengan Kapolda dan jajarannya terkait 9 korban tewas pada peristiwa 21-23 Mei di Jakarta termasuk diantaranya Farhan Syafero, Harun Al Rashid, Sandro dan Abdul Azis. Amnesty International juga menyampaikan temuannya terkait beberapa korban yang diduga salah tangkap dan tidak mendapatkan pendampingan hukum selama di tahanan Polda Metro Jaya - khususnya dalam kasus Juhriyanto, di mana Amnesty International memberikan konsiderasi kuat sebagai kuasa hukumnya.

 

Amnesty International memberikan rekomendasi kepada Kapolda Metro Jaya untuk tetap melakukan penyidikan secara mendalam dan independen guna memastikan hak-hak asasi manusia dari kedua karakter kasus tersebut tidak terlanggar.

 

Amnesty International Indonesia juga menggunakan kesempatan itu untuk menanyakan secara langsung kepada Kapolda Metro Jaya, Direskrimum Polda Metro Jaya yang baru Kombes Pol Suyudi Ario Seto dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono terkait kasus penyerangan air keras kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan. Kapolda mengakui mengalami kesulitan dalam penuntasan kasus tersebut, namun menekankan bahwa kepolisian masih terus bekerja melakukan penyidikan untuk mencari pelaku dan aktor intelektual penyerangan tersebut.

 

Amnesty International Indonesia tetap mendorong Tim Gabungan Kepolisian untuk Penyidikan Novel Baswedan, segera menyelesaikan laporan dan menyampaikan hasil temuannya kepada publik. (mus)