Google Selamatkan Hutan Di Sumatera Barat Dengan Ponsel Jadul dan Kecerdasan Buatan

• Monday, 22 Jul 2019 - 18:06 WIB

Oleh Fajri Rizkiya dari Solok Selatan

Sumbar - Dari analisis citra satelit lansat TM oleh unit GIS Warsi dalam kurun 25 tahun dari tahun 1992 hingga 2017, Sumatera Barat kehilangan hutan seluas 578.372 hektar karena berbagai hal seperti, alih fungsi hutan, pembalakan dan tambang ilegal dalam hutan.

Meski kerusakan hutan di Sumbar tak terlalu signifikan, ke depan jika tak ada pengendalian, potensi perusakan hutan akan lebih parah, seiring pertambahan penduduk. Google menyebut kecerdasan buatan bisa mengawasi dan melindungi hutan di Sumatera Barat.

“Kecerdasan buatan ini udah terdeteksi suara gergaji, harimau dan kami senang sekali bisa memberdayakan warga lokal untuk mempermudah pengawasan dan memerangi illegal loging,” ujar Corporate Communication Google Indonesia Jason Tedjakusuma di Hutan Pakan Rabaa Timur, Solok Selatan, Sumatera Barat, Jumat (19/7/2019).

Salah satu contoh dari alat yang menggunakan Tensor Flow platform dari Google AI adalah Guardian, alat yang dibuat dan dikembangkan oleh Rainforest Connection NGO dari Amerika Serikat.

Untuk mendukung upaya menyelamatkan dan melindungi hutan di Sumatera Barat, maka LSM lokal di Sumatera yaitu KKI Warsi bekerja sama dengan Rainforest Connection untuk memasang alat tersebut di Hutan Pakan Rabaa Timur demi membantu Lembaga Pengelola Hutan Nagari beserta masyarakat setempat menjaga hutan di wilayah Kabupaten Solok Selatan.

“Jadi White Topher CEO dari rainforest connection menggunakan Tensor Flow salahsatu platform yang dikembangkan oleh Google AI yang gratis dan opensource dan kami ingin lihat bagaimana itu dengan teknologi jadul dengan ponsel 2G itu memang bisa terdeteksi macam-macam suara,” tambahnya.

Peran AI di sini adalah mendeteksi jenis suara yang yang ada didalam radius jangkauan alat tersebut dengan jarak 2 kilometer dari tempat alat dipasang. Dari situ alat tersebut bisa membantu para ranger atau warga lokal yang menjaga hutan, jika ada upaya penebangan liar menggunakan gergaji mesin oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Pemanfaatan kecerdasan buatan ini dilakukan oleh CEO Rainforest Connection Topher White. Sebagai pemain di industri non-profit, ia mencoba membantu untuk melindungi hutan di Sumatera Barat dari penebangan liar.

“Hutan hujan tropis, seperti di Solok Selatan, Sumatera Barat, sangat luas. Petugas penjaga atau polisi hutan tidak akan bisa mengawasi sepenuhnya,” ungkap Topher. Ia mengatakan penebangan hutan liar adalah hal masif di Sumatera Barat.

Meskipun seringkali tertangkap, para penebang ini selalu mencari cara untuk lolos dari pengawasan. Sehingga akan kembali datang ke hutan Nagari di Solok Selatan untuk melakukan penebangan liar dan hal ini bisa membuat hutan di Sumatera Barat akan gundul.

"Kita manfaatkan ponsel jadul yang dimodifikasi khusus, ditempel dengan panel sonar. Gunanya adalah mendeteksi suara dengan jangkauan cukup jauh,” kata Topher.

Ponsel ini kemudian dipasang di beberapa lokasi secara tersembunyi, seperti di batang pohon yang tinggi sekitar 40 meter dan lokasinya jauh dari pemukiman warga. Topher mengaku ponsel punya kemampuan sebagai detektor yang cukup akurat.

Data akustik yang dihimpun dari ponsel modifikasi ini kemudian juga diolah menjadi spektogram, yang nantinya akan teridentifikasi berdasarkan jenis suara yang tertangkap. Suara gergaji mesin atau pengangkut kayu akan jelas terdengar, dan itu berarti sedang ada penebangan ilegal. Polisi dan Lembaga Pengelola Hutan Nagari bisa cepat bertindak sebelum para penebang menyelesaikan pekerjaan mereka.

Topher juga mengklaim telah terjun ke dalam hutan Amazon di Brasil, yang para pelaku penebang illegal tidak lain adalah pemain kartel.

“Strateginya adalah menggandeng penduduk setempat, karena mereka yang paling paham wilayah dan paling mengerti bahayanya penebangan yang tidak terkendali,” jelasnya.

Topher dan KKI Warsi rencananya akan memasang sebanyak 12 alat tersebut yang terbagi di 4 desa diwilayah Solok dan Solok Selatan. Topher sendiri sudah berada di Sumatera Barat sejak 12 Juli 2019 hingga 26 Juli 2019 untuk memasang alat tersebut dan memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat tentang cara pengoprasian alat itu.

Topher dan perusahaannya menerapkan teknologi yang mereka namai Rainforest Connection (RFC), di 10 negara 5 benua, dengan luas hutan yang terlindungi sekitar 2.000 kilometer persegi. Ke depannya, ia berencana memperluas wilayah di berbagai tempat di belahan dunia, dengan menggandeng lembaga konservasi terkait atau penduduk setempat.