Jadi Silent Killer, Begini Pentingnya Pencegahan Dini Hepatitis B

• Tuesday, 23 Jul 2019 - 10:50 WIB

JAKARTA, - Penyakit menular hepatitis B masih endemis di Indonesia. Berbeda dengan hepatitis A yang ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Pacitan beberapa waktu lalu dan kini kasusnya telah menurun drastis, hepatitis B justru disebut-sebut sebagai silent killer. Mengapa?

 

Meskipun sama-sama penyakit menular yang menyerang hati, hepatitis B lebih berbahaya karena bisa berkembang menjadi sirosis atau kanker hati jika tidak ditangani segera. Selain itu, bahayanya lagi, penyakit hepatitis B rata-rata tidak menimbulkan gejala awal.

 

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Andri Sanityoso Sulaiman, SpPD-KEGH mengatakan, penyakit hepatitis B cukup banyak di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Metode penularan penyakit ini sendiri adalah dari ibu ke anak, hubungan seksual, dan darah.

 

 

Data dari Kementerian Kesehatan RI memperkirakan, ada 2 persen dari 5,3 juta ibu hamil terdeteksi hepatitis B. Dari angka tersebut, artinya sebanyak 120.000 bayi akan menderita hepatitis B setiap tahunnya.

 

 

"Penularan hepatitis B itu paling banyak dari ibu ke anak. Kalau kena di masa anak-anak, 90 persen ini akan jadi kronik," jelas Dr Andri Sanityoso di acara Temu Media di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (22/7/2019).

 

 

Ia mengatakan, hepatitis B bisa menjadi silent killer karena tidak memiliki gejala pada awalnya. Gejala, kata dia, baru muncul ketika penyakit sudah kronis menjadi sirosis atau bahkan kanker hati.

 

 

"Gejalanya itu kuning pada mata, kulit, kemudian demam, tidak nafsu makan. Kenapa disebut silent killer, karena hampir tidak bergejala. Kalau sudah muncul seperti kuning pada mata dan kulit, atau sudah asites biasanya itu sudah sirosis atau kanker hati," jelas dia.

 

 

Oleh sebab itu, ia menekankan, pentingnya skrining untuk mengetahui apakah memiliki hepatitis B atau tidak. Sebab, kalau positif, ia harus melakukan penanganan khusus untuk pencegahan penularan pada orang lain seperti menggunakan pengaman saat berhubungan seks, atau melahirkan di fasilitas kesehatan agar bayinya bisa divaksin hepatitis B sebelum 24 jam.

 

 

Ia juga menjelaskan bahwa deteksi dini penting untuk kelompok yang berisiko tinggi. Di antaranya petugas kesehatan yang kontak dengan darah, pasien hemodialisis, orang yang pernah berhubungan seks dengan penderita hepatitis B, homoseksual dan biseksual, tinggal atau mengunjungi di daerah endemis hepatitis B, penyalahgunaan obat injeksi, anak yang lahir dari ibu hepatitis B kronis. (iNews.id)