FGD Polri : Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan

• Sabtu, 27 Jul 2019 - 15:58 WIB

Jakarta - Kepolisian Republik Indonesia mengadakan Forum Group Diskusi  dengan tema “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan” yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (25/7). Diskusi ini diadakan karena kekhawatiran terhadap kemajuan teknologi yang membuat penyebaran hoax di ruang publik digital atau media social makin tidak terkendali.

Saat ini tidak terhitung banyaknya akun yang menyebar hoax, pesan-pesan kekerasan, pesan-pesan SARA yang merupakan konten negatif. Hal tersebut dikhawatirkan dapat membunuh karakter generasi milenial dan menumbuhkan rasa premanisme yang merusak persatuan NKRI. 

Untuk menghindarkan generasi milenial dari kejahatan laten media sosial, Polri sebagai pengayom pelindung masyarakat memiliki tanggung jawab untuk melindungi generasi milenial dari bahaya kejahatan teknologi dan mengayomi generasi milenial agar bijak menggunakan teknologi.

“Memasuki era kemajuan teknologi dan informasi adalah yang tidak bisa dihindari oleh siapapun. Nilai-nilai kebudayaan akan membingkai hadir media yang berkualitas. Divisi humas Polri sebagai salah satu satuan kerja di Polri yang memiliki fungsi menyalurkan informasi yang benar kepada masyarakat harus memainkan peran dan turut andil dalam menciptakan generasi milenial yang berkualitas dan intelektualitas demi masa depan bangsa dan negara,” kata Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Pol. Dedi Prasetyo, saat membuka FGD.

Selain Karo Penmas Polri, acara ini juga dihadiri Eko Sulistyo Deputi IV Kepala Staf Presiden RI, Hilmar Farid Dirjen kebudayaan Kemendikbud RI, Nico Siahaan Anggota DPR RI, dan Marcell Siahaan sebagai narasumber.

Dari sisi seniman, Marcell Siahaan  berpendapat perlu literasi digital untuk menyaring dan mensharing hoax.

"Agar terbangun pondasi dan pola pikir yang kuat, baik dari sisi seni maupun budaya," katanya.

Sementara itu Deputi IV Kepala Staf Presiden RI, Eko Sulistyo menegaskan,  Presiden Joko Widodo melihat pentingnya nilai-nilai seni dan budaya.

"Pembangunan yang sekarang bertumpu pada infrastruktur, akan diseimbangkan dengan infrastruktur lunak, yaitu kebudayaan," pungkas Eko. (Djp)