Banyak Kasus Patah Tulang, Ini yang Wajib Diperhatikan Jamaah Haji Indonesia

• Monday, 29 Jul 2019 - 11:04 WIB

MAKKAH – Jumlah kasus fraktur atau patah tulang pada jamaah haji Indonesia mengalami peningkatan di tahun ini. Faktor usia, kelelahan, dan lingkungan diduga menjadi penyebab utama peningkatan kasus fraktur yang dialami jamaah haji Indonesia.

Patah tulang pada jamaah haji menjadi kasus penyakit kedua terbanyak yang ditangani oleh Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Jumlah kasusnya pada 2019 cenderung meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data yang dimiliki KKHI Makkah hingga Minggu 28 Juli 2019, terdapat 21 jenis kasus fraktur yang telah ditangani. Jenis fraktur yang terbanyak ialah fraktur colles, sejumlah 15 kasus. Fraktur ini adalah patah tulang pada bagian pergelangan tangan. Lalu berikutnya fraktur collum femur atau patah tulang paha ada lima kasus dan satu kasus lainnya fraktur proximal pada tulang ulna atau tulang hasta lengan bagian bawah.

Penyebab utama patah tulang karena terjadi trauma atau cedera akibat benturan. Penyebab ini dipicu oleh faktor risiko yang dialami oleh jamaah haji Indonesia, yaitu dehidrasi, kelelahan, dan lingkungan. Faktor risiko tersebut bisa berlaku pada jenis penyakit lainnya.

“Karena faktor kelemahan tenaga yang sudah kecapekan lama berdiri, akhirnya terpeleset atau tersenggol sedikit jatuh,” kata dr. Ali Setiawan, Sp.B, Direktur KKHI Makkah dalam keterangannya kepada iNews.id, Senin (29/7/2019).

Faktor usia menjadi pemberat kasus fraktur. Mengingat jamaah haji Indonesia mayoritas berusia lanjut. Mereka pada umumnya sudah mengalami osteoporosis, kandungan kalsium tulangnya kurang. Sehingga rentan dengan cedera yang minor saja dapat mengakibatkan terjadinya fraktur. Itu yang terjadi pada jenis fraktur colles.

“Pasien traumanya terjatuh dengan posisi tangan menumpu. Dari 15 kasus, hampir 80 persen sampai 85 persen itu fraktur colles-nya terjadi di tangan kiri,” kata dr. Faisal Lukman, Sp.B di KKHI Makkah.

Direktur KKHI Makkah menyebutkan dari hasil diagnosis tim KKHI, kasus patah tulang bisa terjadi di berbagai lokasi. Kasus yang terjadi di pondokan/hotel atau bandara, jamaah terpeleset di kamar mandi. Kejadiannya karena jamaah mengalami sakit kepala atau penurunan kesadaran. Begitu juga terjadi ketika baru akan turun dari bus.

Sementara ada juga kasus jamaah yang salat di Masjidil Haram tiba-tiba terjatuh. Kasus-kasus tersebut akibat jamaah kehilangan keseimbangan tubuh. Umumnya dipicu oleh kelelahan atau kekurangan cairan.

Penanganan kasus fraktur ada beberapa metode. Untuk fraktur colles, tim kesehatan KKHI akan melakukan reposisi fraktur tertutup dan pemasangan gips. Sedangkan untuk kasus-kasus yang membutuhkan intervensi operasi terbuka, seperti fraktur collum femur, KKHI akan merujuk ke salah satu rumah sakit Arab Saudi untuk dilakukan operasi.

Proses penyembuhan dan pemulihan kasus fraktur membutuhkan waktu tidak sebentar. Pada kasus ringan, umumnya dalam dua minggu pasien akan datang kembali ke KKHI. 

Sementara yang pasca-operasi, tambah Faisal, mobilisasinya dilakukan bertahap. Proses pemulihan ini juga dikonsultasikan dengan dokter spesialis rehabilitasi medik di KKHI Makkah. Oleh sebab itu, Kepala Pusat Kesehatan Dr. dr. Eka Jusup Singka, MSc meminta kepada para pasien agar bersabar dan tetap mengikuti proses pengobatan dari petugas kesehatan.

“Penanganan jamaah haji pasca-operasi akan memakan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu, jamaah saya minta bersabar dengan kondisi ini,” kata Eka.

Jamaah haji yang sudah ditangani, baik yang hanya dipasang gips maupun yang harus dioperasi masih bisa melakukan prosesi ibadah haji. Tetapi dengan ditunjang alat bantu seperti tongkat atau kursi roda. Khusus untuk menjalankan rukun dan wajib haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina, kursi roda mutlak diperlukan karena aktivitas di tiga lokasi tersebut membutuhkan fisik yang prima.

Agar kasus-kasus fraktur tidak terjadi lagi kepada jamaah haji Indonesia, pemerintah mengimbau untuk bisa mengukur kemampuan dirinya sendiri. Kalau jamaah sudah kelelahan dan mengalami dehidrasi, maka kondisi ini akan memicu timbulnya penyakit, termasuk risiko patah tulang. 

Jamaah juga diimbau menggunakan alat pelindung diri yang tepat. Penggunaan sandal jepit selain menyebabkan iritasi pada kaki juga berisiko untuk terpeleset.

“Jangan memaksakan diri untuk melakukan ibadah atau aktivitas lain secara berlebihan. Ukur kemampuan diri sendiri,” kata Direktur KKHI Makkah.

Sementara itu, dokter Faisal juga mengingatkan supaya jamaah haji Indonesia jangan memisahkan diri dengan mahram atau rombongannya. Dia juga menyarankan para jamaah haji untuk mencegah osteoporosis dengan cara mengonsumsi asupan makanan atau vitamin berkalsium tinggi.