Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Dunia

• Monday, 29 Jul 2019 - 16:14 WIB

Jakarta - Satu lagi kekayaan budaya Indonesia mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari dunia. Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) yang terletak di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Penetapan tersebut diumumkan pada Sidang World Heritage Committee (WHC) atau Komite Warisan Dunia ke-43 di Kota Baku, Azerbaijan, Sabtu (6/7), pukul 12.20 waktu setempat.
Pertemuan itu berlangsung mulai 30 Juni sampai 10 Juli 2019 dan merupakan agenda rutin tahunan WHC yang dimandatkan oleh Konvensi tentang Perlindungan Warisan Budaya dan Alam Dunia (Convention Concerning the Protection of World Cultural and Natural Heritage) atau secara singkat disebut Konvensi Warisan Dunia 1972.

Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Nyoman Shuida mewakili pemerintah Indonesia khususnya Menteri Koordinator Bidang PMK mengatakan bahwa pada tahun 2015, WTBOS telah masuk dalam daftar sementara sebagai bagian dari proses nominasi warisan dunia.

"Total ada 36 nominasi ketika itu. Dan dengan ditetapkannya WTBOS sebagai warisan dunia untuk kategori warisan budaya, artinya Indonesia sudah memiliki sembilan warisan dunia," ujarnya.
Ada lima warisan dunia yang dimiliki Indonesia pada kategori warisan budaya, yaitu Kompleks Candi Borobudur (1991), Kompleks Candi Prambanan (1991), Situs Manusia Purba Sangiran (1996), Lanskap Budaya Provinsi Bali; Sistem Subak sebagai Manifestasi dari Filosofi Tri Hita Karana (2012), dan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (2019). Adapun pada kategori warisan alam, Indonesia memiliki empat warisan yaitu Taman Nasional Ujung Kulon (1991), Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorentz (1999), dan Hutan Hujan Tropis Sumatera (2004).

WTBOS dinilai pantas menyandang status warisan budaya duni karena konsep Tiga Serangkai yang dicetuskan pemerintah Belanda saat itu. Tiga Serangkai dimaksud meliputi, satu, Kota Tambang di Sawahlunto, dua, infrastruktur perkeretaapian, dan tiga, Pelabuhan di Teluk Bayur.
"Hubungan sistemik industri tambang batubara, sistem perkeretaapian, dan pelabuhan ini berperan penting bagi pembangunan ekonomi dan sosial di Sumatera dan di dunia," ungkap Nyoman.

WTBOS dapat menjadi representasi dinamisnya interaksi sosial dan budaya antara dunia timur dan barat yang berhasil mengubah daerah tambang terpencil menjadi perkotaan dinamis dan terintegrasi. WTBOS juga menunjukkan adanya pertukaran informasi dan teknologi lokal dengan teknologi eropa terkait dengan eksploitasi batubara di masa akhir abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20 di dunia, termasuk di Asia Tenggara.

Di samping itu, WTBOS juga memiliki keunikan luar biasa dari tipe bangunan, karya arsitektur dan kombinasi teknologi atau lanskap yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia.

Pada konferensi pers yang digelar Senin (29/7), Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menambahkan bahwa pasca WTBOS ditetapkan sebagai warisan dunia, pemerintah mencanangkan tiga agenda prioritas.

Pertama, penerapan struktur koordinasi dan mekanisme pelaksanaannya meliputi penyelenggaraan Board of Directors, penyusunan kesepakatan dan turunannya, partisipasi masyarakat, serta mekanisme insentif.
Kedua, pelaksanaan rencana aksi manajemen plan mencakup penyusunan usulan kegiatan dan penyelenggaraan anggaran kementerian/lembaga, Pemda, dan BUMN.

“Ketiga, penyusunan tindak lanjut rekomendasi tambahan WTBOS yaitu penyusunan rencana aksi dan penyelenggaraan dan juga pelaporan keadaan pelestarian WTBOS 2021,” pungkas Hilmar. (ANP)