Merdeka Berkreasi, Cintai Negeri

• Wednesday, 7 Aug 2019 - 15:47 WIB

Tak hanya proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945 merupakan momen nasionalisme kebangsaan kita. Masalahnya, masihkah nasionalisme kita, kuat menghadapi ancaman radikalisme?

Pada tahun ini saja, Kementerian Komunikasi dan Informatika - Kominfo sudah melakukan suspend terhadap lebih dari 1.500-an website maupun akun, yang terpapar maupun terkait radikalisme dan terorisme. Plt Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus Setu menjelaskan, "Total yang telah diblokir Kominfo terkait ekstrimisme dan radikalisme, sudah lebih dari 11.800-an akun atau website, sejak tahun 2009. Dalam penanganan konten radikalisme cukup serius, kami bekerja sama BNPT atau BIN, ketika mendapat konten yang kalau tidak diblokir, maka membahayakan, anak muda kita akan terpapar."

Ancaman radikalisme tak hanya terjadi di dunia maya, tetapi juga nyata telah berlangsung di sekitar kita. Juru Bicara Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto menegaskan, "Radikalisme itu nyata, kita kan banyak terjadi ledakan bom. Apalagi keterlibatan wanita dan anak-anak, itu kan meniru di Suriah, di medan tempur. Kita pun terjadi, di Sibolga, yang meledakkan ibunya. Anaknya mati di situ."

Dari waktu ke waktu, nasionalisme kita memang mengalami pasang surut, ketika Sumpah Pemuda 1928 atau sebelumnya, di mana para pemuda memahami etnonasionalisme, sampai berkembang menjadi nasionalisme kebangsaan saat 1945, seperti diceritakan Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam. 

"Muncul lagi isu-isu pentingnya tugas kita menegaskan adalah nasionalisme kebangsaan"

Apa jadinya ketika narasi nasionalisme surut, berkurang, dan tak lagi menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat kita? Ketua Pusat Studi Amerika Universitas Indonesia Suzie Sudarman mengaitkannya dengan apa yang terjadi di negara Paman Sam. 

Saat konten digital radikal berhasil terus-menerus diblokir oleh pemerintah, apa lagi yang bisa kita lakukan? 

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mendorong kebudayaan inklusif dari tingkat yang paling bawah.

Di sisi lain, sejerawan Asvi Warman Adam menekankan upaya penghambatan paham-paham yang bertentangan dengan nasionalisme. 

Deputi Pembinaan Pemuda Kemenpora Asrorun Ni'am Soleh menyatakan, generasi muda harus menghargai proses, termasuk belajar agama dari orang yang tepat. 

Bagaimana di media sosial? Juru Bicara Kepala BIN Wawan Purwanto mengingatkan agar cerdas menggunakan media sosial, karena medsos adalah ranah publik, bukan wilayah privat. 

Pemerintah juga memastikan, regulasi di jagat maya adalah koridor, bukan pembatasan atas kemerdekaan kreativitas, seperti ditegaskan Plt Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus Setu. 

Merdeka Berkreasi dalam Semangat Nasionalisme, Dirgahayu Indonesiaku.

 

https://drive.google.com/open?id=1N3ERyACGr1liPcNAxWRosmC7AaE6fs0-