Melihat Ketangguhan Polwan Perbatasan RI-Malaysia Padamkan Karhutla

• Jumat, 9 Agu 2019 - 13:35 WIB

ENTIKONG - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi hampir di setiap daerah di Kalimantan Barat. Tak terkecuali di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, perbatasan Republik Indonesia (RI)-Malaysia.

Tim gabungan TNI-Polri serta Manggala Agni harus berjibaku memadamkan api yang membakar sejumlah luasan lahan di sana. Agar api tak merambat ke lahan lain. Apalagi ke lahan tetangga.

Pemadaman ini tak hanya dilakukan oleh petugas yang notabene laki-laki. Petugas perempuan pun ikut berjibaku mengatasi musibah musiman ini. Dialah, Bripda Indah Roida Simaremare.

"Waktu itu, kurang lebih satu jam kami berjibaku melawan asap demi memadamkan api," tutur Indah, Jumat (9/8/2019).

Upaya pemadaman itu dilakukan di Desa Nekan, Kecamatan Entikong, pada Rabu 7 Agustus lalu. Api mulai membakar lahan pertanian yang nyaris merambat ke hutan di sekitarnya.

"Memang cukup pekat asapnya dan sangat panas. Tapi itu tak menjadi kendala bagi saya untuk membantu memadamkan karhutla yang terus membakar hutan di sekitar ladang warga," kata Indah.

Dara kelahiran Menjalin, 10 Juli 1996 ini mengakui, setiap tahun selalu terlibat dalam patroli karhutla di tempat tugasnya.

"Polwan harus siap dalam segala situasi dan kondisi apapun," tegas perempuan berwarna kulit sawo matang dan mempunyai tinggi badan 160 sentimeter ini.

Wakapolsek Entikong, Iptu Eeng Suwenda menambahkan, memang dalam setiap patroli baik mencegah dan menanggulangi karhutla ia melibatkan semua anggotanya. Tak terkecuali polwan.

"Di perbatasan, wilayah hukum Polsek Entikong, tidak hanya melibatkan unsur TNI Polri yang laki-laki. Tapi yang ikut langsung memadamkan api di lahan, juga melibatkan polwan," kata Eeng.

Menurut Eeng, karhutla di perbatasan selalu terjadi ketika memasuki musim kemarau. Karena waktu itu dimanfaatkan warga untuk membuka lahan pertanian secara tradisional, yakni dibakar.

Agar tak menjadi musibah besar, kata Eeng, TNI Polri di sana kerap memberikan sosialisasi kepada masyarakat di perbatasan. Isinya, terkait larangan dan bahayanya membuka lahan pertanian dengan cara dibakar. Meski sudah berjuang, amun masih saja ada warga yang menekuni cara tradisional tersebut.

Hal inilah yang dihadapi petugas hampir di semua daerah. Kendati demikian, kata Eeng, pihaknya selalu sigap melakukan pencegahan dan penanggulangan karhutla.

"Kani rutin melakukan patroli karhutla. Kami sigap menangani karhutla dengan melibatkan semua unsur yang ada," ucap Eeng.(Okezone)