Bauran Energi Rendah, JK Keluhkan Pengembangan EBT Lambat

• Tuesday, 13 Aug 2019 - 14:22 WIB

JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengeluhkan lambatnya pengembangan pembangkit listrik dengan energi baru dan terbarukan (EBT). Alhasil, bauran energi yang bersumber dari EBT kontribusinya kecil.

"Bukan hanya panas bumi yang lambat. Selama puluhan tahun EBT baru 8.000 megawatt (MW). Itu termasuk PLTA (pembangkit listrik tenaga air), angin dan surya," kata dia di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Padahal, orang nomor dua RI itu menambahkan, EBT saat ini menjadi sangat penting keberadaannya. Sebab, isu lingkungan juga menjadi salah satu prioritas utama yang dibahas oleh pemerintah.

Oleh karenanya, EBT diharapkan mampu memasok kebutuhan listrik nasional sekaligus menjaga lingkungan, dengan lebih rendahnya emisi yang dihasilkan dibanding pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

"Kita yang jadi masalah di dunia adalah lingkungan. Di DKI Jakarta polusi tinggi salah satu sebabnya polusi dari PLTU di sekitar Jakarta," ujarnya.

Namun, pada kenyataanya sampai saat ini realisasi pengembangan pembangkit listrik EBT masih sangat minim. JK mengambil contoh, tekait pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) yang lambat.

"Panas bumi di Indonesia bukan hal baru, 35 tahun lalu Kamojang sudah beroperasi jadi bukan barang baru. Menyusul Dieng, Patuha, Lahendong, semua sudah puluhan tahun. Jadi kalau bisa katakan, walau sudah berapa kali konvensi, ini pengembangannya lambat. Hasilnya baru 2.000 MW untuk 30 tahun pengalaman," tutur dia.

JK ingin pengembangan pembangkit listrik tenaga EBT dipercepat. Pasalnya, ia menilai pengembangan pembangkit listrik tenaga EBT semakin dimudahkan dengan banyaknya investor yang ingin menanamkan modalnya untuk pengembangan EBT. 

"Kalau PLTU enggak ada yang mau danai, kan," ucapnya. (iNews.id)