Peneliti LIPI Paparkan Hasil Ekspedisi Pulau-pulau Terdepan NKRI

• Thursday, 15 Aug 2019 - 13:27 WIB

Jakarta - Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko mengatakan, Ekspedisi Nusa Manggala merupakan salah satu bukti kehadiran negara di pulau-pulau kecil terluar(PPKT).

"Ini merupakan salah satu aktivitas riset yang dilakukan LIPI yang bertujuan mengeksplorasi pulau-pulau terluar yang menjadi basis utama pengukuran batas wilayah Indonesia," jelasnya.

"Ekspedisi ini baru mengeksplorasi 8 dari 111 pulau terluar, ini baru awal. LIPI juga tengah melakukan pengadaan kapal armada agar nantinya dapat meneruskan eksplorasi hingga 111 pulau," ungkap Handoko di sela peluncuran Film Dokumenter bertajuk “Kisah Delapan Pulau Terluar Indonesia” pada Rabu (14/8), di Jakarta.

Pada kesempatan itu Handoko mengungkapkan kebanggaan dan apresiasinya pada peneliti dan seluruh pihak yang terlibat. "Saya ucapkan selamat kepada 55 peneliti yang terlibat. Hal ini merupakan bukti komitmen LIPI untuk dapat memberikan kontribusi pada negara dan masyarakat. Di sinilah peran LIPI, menjadi tugas dari pelaku iptek yang mengawali kegiatan riset dari daerah terpencil," ujarnya.

“Berada di wilayah terluar Indonesia menjadikan pulau-pulau tersebut jauh dari jangkauan kepengelolaan. Sedangkan di sisi lain pulau-pulau ini memiliki peran yang sangat penting sebagai penanda kedaulatan, karena berada di beranda depan NKRI,” lanjut Handoko.

Sebagai kawasan strategis nasional, PPKT menyediakan ekosistem alam yang produktif seperti terumbu karang, padang lamun, mangrove. Selain itu juga menunjang sektor pangan, perikanan dan wisata

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin, menjelaskan bahwa Ekspedisi Nusa Manggala adalah kegiatan penelitian yang fokus pada aspek ilmiah, untuk menggali data dan informasi sumber daya alam hayati maupun non hayati di kawasan pesisir PPKT Indonesia.

Menurutnya, hasil penelitian ini berupa rekomendasi daftar isu strategis terkait pengelolaan sumber daya pesisir di PPKT Indonesia, yaitu pengelolaan terkait sumber daya yang bisa di eksplorasi, infrastruktur yang diperlukan, dan sosial budaya masyarakat lokal.

Koordinator Ekspedisi Nusa Manggala sekaligus peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Udhi E. Hernawan menerangkan, ekspedisi ini terlaksana selama 49 hari (16/10 – 23/12) di tahun 2018. Jangkauan jarak jelajah lebih dari 6.000 Km dengan lokasi pada 8 Kepulauan yang dituju. Yaitu Yiew, Budd, Fani, Kepulauan Mapia (Brass dan Fanildo), Liki, Bepondi, dan Meossu, serta eksplorasi di satu gugusan kepulauan Ayau di kawasan raja Ampat, Papua.

Pemilihan 8 pulau tersebut karena berada di wilayah Samudra Pasifik. Menurut keterangan Udhi, terkait pemberian nama ekspedisi, para peneliti yang terlibat termasuk Wayan Eka Darmawa dan M. Hafizt, menyebutnya ‘Nusa Manggala’.

"Nusa adalah pulau dan manggala dalam bahasa Sansekerta memiliki arti sesuatu yang di depan. Nusa Manggala bermakna pulau terdepan dari wilayah NKRI,” pungkas Udhi. (mus)