Staf 12 Universitas Menerima Beasiswa StuNed untuk Pelatihan Kajian Sosio Legal

• Tuesday, 20 Aug 2019 - 20:17 WIB

JAKARTA - Konteks sosial, politik, dan budaya sangat berpengaruh ketika hukum sedang dibentuk dan diimplementasikan. Pernyataan ini mengemuka dalam pelatihan kajian sosio legal yang dilaksanakan di Gedung Makara Universitas Indonesia (UI) di Depok, atas dukungan beasiswa StuNed dari pemerintah Belanda.

Saat acara pembukaan pelatihan, Selasa (20/8), Direktur Nuffic Neso Indonesia Peter van Tuijl, secara resmi menyerahkan beasiswa tersebut kepada Sulistyowati Irianto, Kepala Departemen Hukum, Masyarakat dan Pembangunan, Fakultas Hukum (FH) UI.

“Pelatihan ini mengupas tujuan bidang hukum yang sebenarnya, dengan mengkaji latar belakang ketentuan hukum yang dihasilkan. Pelatihan ini sangat strategis untuk pengembangan teori dan metodenya di lingkup nasional,” kata Muhamad Ramdan Andri Gunawan Wibisana, Wakil Dekan FHUI, dalam sambutannya.

Kegiatan yang berlangsung pada 20-25 Agustus 2019 di UI Depok, ini diikuti oleh 23 peserta dari sejumlah universitas di Indonesia. Van Volenhoven Institute (VVI), Universitas Leiden, Belanda, bertindak sebagai narasumber utama.

Selain itu, narasumber juga berasal dari Fakultas Hukum Universitas Amsterdam, FHUI dan beberapa pakar Indonesia lainnya di bidang sosio legal, antara lain dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Mataram, Universitas Airlangga, dan Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Inde[endensi Peradilan (LeIP).

“Bidang hukum menjadi area prioritas kerja sama pemerintah Belanda dan Indonesia,” kata Brechtje Klandermans, Wakil Kepala Departemen Politik Kedubes Belanda, dalam kesempatan yang sama.

“Komposisi peserta pelatihan yang banyak melibatkan universitas di Indonesia bagian Timur juga menjadi faktor penentu sehingga pelatihan ini disetujui mendapatkan beasiswa StuNed,” tambahnya.

Sebagai tindak lanjutnya, para peserta akan menyusun kurikulum fakultas hukum dengan perspektif kajian sosio-legal. Sehingga, dengan makin berkembangnya kajian sosio legal, makin banyak sarjana hukum yang menguasai metode penelitian hukum yang bersifat interdisipliner.

“Tindak lanjut ini akan dibahas saat panel INLU (Indonesia-Netherlands Law Update) yang akan dilaksanakan bulan Desember 2019,” ujar Peter. (ANP)