LIPI Temukan Bahan Baku Anti Kanker Dari Tanaman Bintangur

• Tuesday, 20 Aug 2019 - 20:29 WIB

JAKARTA - Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jamilah menemukan bahan baku obat anti kanker dari tanaman Calophyllum spp. Tanaman tersebut juga dikenal dengan nama Bintangur.

"Hasil penelitian kami telah membuktikan bahwa Calophyllum mengandung senyawa aktif antikanker dan antimalaria," kata Jamilah dalam orasi pengukuhan Profesor Riset yang berjudul "Penemuan Senyawa Aktif Baru dari Calophyllum spp sebagai Bahan Baku Obat Antikanker dan Antimalaria" di Jakarta, Selasa.

Dari hasil penelitian, Jamilah menemukan tiga senyawa baru dan 16 senyawa lama yang telah diidentifikasi strukturnya. Tiga senyawa baru tersebut adalah jayapurakumarin yang berupa bubuk kuning muda dan mempunyai aktivitas antikanker dan diperoleh dari tumbuhan Calophyllum soulattri dari Jayapura di Papua.

Senyawa baru selanjutnya adalah azizkumarin yang aktif sebagai antikanker dari Calophyllum incrasaptum dari Pelalawan, Riau. Kemudian, senyawa calocoumarin juga aktif sebagai anti kanker yang diperoleh dari tanaman Calophyllum tetrapterum dari Gunung Kerinci, Jambi.

"Di Indonesia, peluang untuk pengembangan senyawa aktif antikanker dan antimalaria untuk dijadikan obat pengganti obat impor masih terbuka lebar," ujarnya.

Jamilah menuturkan bahwa kanker merupakan penyebab kematian dan kejangkitan yang terbesar di dunia dibandingkan penyakit lain. Jumlah pengidapnya meningkat hingga 70 persen dalam dua dekade.

Sementara itu, malaria adalah penyakit infeksi yang mematikan nomor lima setelah penyakit infeksi saluran nafas, HIV/AIDS, diare, dan TBC. Jamilah mengatakan, tumbuhan Calophyllum spp mempunyai potensi sebagai sumber bahan baku obat kanker dan malaria.

Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon, neoflavonoid, triterpen, dan steroid yang memiliki aktivitas antiimflamasi, antijamur, antihipoglikemia, antiplatelet, antitumor, antimalaria dan antibakteri serta anti-TBC.

Tanaman Calophyllum tersebar di hampir semua pulau-pulau besar di Indonesia. Ketersediaannya sangat melimpah untuk dapat mendukung pembuatan obat anti kanker dan anti malaria.

"Untuk ikut berperan mengeliminasi malaria dan mengatasi penyakit kanker di Indonesia, kami tertarik mencari senyawa baru dari tumbuhan Indonesia, yaitu tumbuhan Calophyllum," tutur Jamilah.

Menurut Jamilah, barvariasinya tumbuhan Calophyllum sebagai sumber bahan baku menuntut banyak riset dan pengembangan agar dapat menghasilkan senyawa baru untuk dijadikan obat antimalaria dan antikanker yang lebih efektif, aman, dan ekonomis. Ia mengatakan, untuk mewujudkan industri bahan baku obat antikanker dan antimalaria yang memanfaatkan bahan baku tumbuhan Calophyllum, perlu dilakukan kerja sama yang terpadu antara institusi penelitian dengan pihak industri agar dapat bersaing dengan harga obat impor.

Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati Indonesia

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keanekaragam hayati yang sangat melimpah. Bahkan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan biodiversitasnya yang paling banyak di dunia dan berada diurutan ke-17 dunia. Keanekaragaman hayati Indonesia menduduki urutan kedua dunia setelah Brazil, dan urutan pertama jika biota laut juga turut diperhitungkan. Meski begitu, program konservasi dirasa belum optimal menggali sumber keanekaragaman hayati yang ada di nusantara.

Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nina Artanti mengatakan, bahwa berbagai masalah yang menjadi terkait konservasi keanearagaman hayati Indonesia salah satunya yakni pembalakan liar, alih fungsi lahan, dan kebakaran hutan menjadi beberapa faktor kendalanya.

Bahkan sebuah penelitian menyebutkan, Indonesia telah kehilangan 6,02 juta hektare hutan dalam kurun waktu 2000 sampai 2012 dengan tingkat deforestasi tahunan mencapai 0,82 juta hektare per tahun pada 2012 lalu. Oleh karena itu, Nina menegaskan bahwa hal tersebut perlu dicegah dengan menunjukkan potensi nyata dari berbagai keanekaragaman hayati Indonesia dengan cara memanfaatkan keanekaragaman hayati menjadi obat.

“Banyak senyawa aktif dari sumber daya hayati Indonesia yang berpotensi menjadi obat antikanker dan antimalaria,” kata Nina dalam Orasi Pengukuhan Profesor Riset di Kantor Pusat LIPI, Jakarta, Selasa (20/8).

Lebih lanjut Nina menjelaskan, bahwa sebanyak 30.000 spesies tumbuhan yang ada di Indonesia, 9.600 spesies diantaranya merupakan tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal/tradisional. Meski begitu, dirinya tak menampik jika baru 300 spesies saja yang dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal.

Dirinya juga menyayangkan bahwa sampai saat ini sebagain besar bahan baku obat tradisional masih tergantung pada impor dari luar negeri. Dirinya menekankan bahwa hampir 90 persen bahan baku obat di industri farmasi merupakan produk impor. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian pada 2016, Indonesia mengimpor bahan baku obat terbanyak dari China, India, dan kawasan Eropa.

“Lebih dari 8.000 produk telah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan sebagai jamu tetapi baru ada sekitar 60 produk obat herbal terstandar dan 21 produk fitofarmaka," tegasnya. (ANP).