Akademisi Kritik Rencana Pemerintah Datangkan Rektor Asing

• Thursday, 29 Aug 2019 - 21:39 WIB

JAKARTA - Rencana pemerintah melalui Kemenristekdikti, untuk menempatkan rektor-rektor asing di sejumlah perguruan tinggi, terus menuai kritikan dari para akademisi. Rektor Universitas Mercu Buana (UMB) Prof Dr Ir Ngadino Surip MS meragukan kehadiran rektor asing akan mampu menyelesaikan permasalahan yang kompleks di perguruan tinggi Indonesia.

Menurut Ngadino, masalah di perguruan tinggi bukan hanya pada manajemen tetapi sampai ke dasar. Ngadino menganalogikan perguruan tinggi saat ini sedang mengalami sakit nafsu makan.

”Penyebab utamanya adalah para dosen kita lagi sakit. Anda tahu kalau orang sakit itu nafsu makannya turun. Hanya keinginannya mau sate enak, bakso enak, tapi begitu datang tidak dimakan karena dia sedang sakit. Nah sekarang pertanyaan saya, apakah ada jaminan rektor yang dari asing ini bisa mengobati dosen yang sakit agar nafsu makannya kembali pulih. Apalagi, sekadar dikasi nasi, tempe, dan sambal dia lahap makannya,”  tegasnya di sela acara Pembukaan Perkuliahan Tahun Akademik 2019/2020, di Kampus UMB, Meruya, Jakarta Barat (29/8/2019).

Ia mengatakan, dosen sudah diberikan fasilitas internet, ruang kerja yang bagus, disipakan dana dan tempat penelitian tapi kalau tapi kalau nafsu untuk meneliti tidak ada maka tidak bisa. ”Masalahnya adalah bagaimana ini para dosen supaya bisa memiliki nafsu makan. Maksudnya adalah nafsu untuk penelitian, mengembangkan ilmu, mengatahui sesuatu yang baru harus ditingkatkan.  Apakah bisa rektor dari asing mengobati dosen yang kehilangan nafsu makan ini. Ini tidak mudah,” paparnya.

frame frameborder="0" height="250" id="google_ads_iframe_/21622890900/ID_indopos.co.id_res_article_mid1_336x280//300x250_0" name="google_ads_iframe_/21622890900/ID_indopos.co.id_res_article_mid1_336x280//300x250_0" scrolling="no" title="3rd party ad content" width="300">Menurutnya  mengganti dengan rektor asing hanya akan mengobati gejala atau akibat sakitnya. ”Pusing dikasi obat sakit kepala tetapi obatnya habis ya pusing lagi,” cetusnya.

Ngadino menjelaskan, yang paling penting membenahi pendidikan tinggi di Indonesia adalah menyelesaikan akar masalahnya. Salah satunya adalah membangung motivasi dari tingkat dosen. Contohnya dengan memberi penghargaan terhadap guru besar, memberikan tunjangan-tunjangan prestasi, penyediaan laboratorium yang cukup, akses jalur kerja sama dengan asing. ”Secara SDM kita mampu kok. Banyak SDM kita yang top-top,” paparnya.

Di lain sisi, Ngadino memotivasi sekitar 2.300 mahasiswa baru sedang berada di kampus yang terakreditasi A. Data BAN PT tahun 2019, dari 4.500 kampus se Indonesianya hanya 96 kampus yang terakreditasi A. ”Saudara berada di kampus yang tengah berupaya mendapatkan akreditasi internasional pada tujuh program studi, yakni Program Studi Manajemen, Akuntansi, Teknik Informatika, Sistem Informasi, Ilmu Komunikasi, Desain Produk dan Teknik Sipil. Secara bertahap akan ditingkatkan akreditasi internasional untuk seluruh program studi,” tambahnya.

Menurutnya, di luar sana persoalan bangsa semakin pelik. Bangsa dihadapkan pada ragam tantangan yang perlu dijawab dengan kejernihan hati dan kedalaman ilmu pengetahuan. ”Di mana gejala disintegrasi, gejolak ekonomi global hingga polemik politik serta masalah-masalah lainnya kian terasa. Melalui kesempatan inilah saya mengajak semua sivitas untuk berani mengambil peran sebagai peredam masalah. Melalui kegiatan-kegiatan yang positif. Sekaligus, berupaya mengembangkan riset yang aplikatif agar mampu menjadi pendorong laju ekonomi dan pemberi solusi-solusi persoalan bangsa,” mengakhiri. (ANP)