Cegah Penyakit Melalui Vektor, Kemenkes Luncurkan Silantor

Diana Rafikasari • Monday, 2 Sep 2019 - 15:26 WIB

JAKARTA - Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit meluncurkan sebuah sistem yang dapat mencegah terjadinya penularan penyakit melalui vektor. Sistem tersebut dinamai Silantor atau Sistem Surveilans Vektor.

Silantor berbasis website dan android. Melalui Silantor ini secara teknis tenaga kesehatan di Puskesmas mengumpulkan data vektor di wilayah kerjanya. Setelah itu data diinput ke dalam Silantor dan akan terintegrasi ke dinas kesehatan kabupaten atau kota, provinsi, sampai ke pemerintah pusat.

Silantor merupakan sistem yang dikembangkan dalam rangka kewaspadaan dini terhadap penyakit tular vektor dan zoonotik.

''Kalau hasil survei melalui Silantor ini menunjukkan bahwa vektronya ada dan membahayakan bila terjadi penularan penyakit, maka sebelum timbul penyakit tertentu bisa dilakuan upaya pengendalian vektor,'' ujar Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, dr. Nadia Tarmizi, M.Epid.

Data vektor yang diinput ke Silantor akan dianalisis secara otomatis oleh sistem untuk mengetahui tingkat kebahayaan penyakit tular vektor. Semua data di Puskesmas nantinya akan teranalisis di tingkat kabupaten atau kota, nanti akan menunjukkan kabupaten atau kota tersebut aman atau tidak terhadap penularan penyakit, demikian juga di tingkat provinsi dan nasional.

''Analisis data vektor didasarkan pada angka baku mutu di Permenkes 50 tahun 2017 yang menyebutkan bahwa kalau kepadatan nyamuk melebihi baku mutu yang ada, begitu juga kepadatan lalat, kecoa, dan tikus, dan lain-lain, maka potensi penularan kepada manusia akan lebih besar,'' kata Nadia.

Dengan mengetahui kepadatan vektor di suatu wilayah maka akan diketahui potensi penyakit yang ajan muncul seperti apa. Sosialisasi Silantor akan dilakukan secepatnya pasca launching. Sebelumnya sudah ada beberapa suku dinas di DKI Jakarta meminta Silantor disosialisasikan terlebih dahulu sebelum launching.

''Ini aplikasi lebih ke preventif. Berdasarkan analisis data survei ini akan kita ketahui kondisi vektornya seperti apa, apakah kondisinya berbahaya bagi kesehatan masyarakat atau tidak,'' kata Nadia.