Menko PMK Puan Maharani Terima Penghargaan Pin Tanda Alumni Kehormatan Lemhanas

• Thursday, 5 Sep 2019 - 22:30 WIB

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani menerima penghargaan pin tanda alumni kehormatan Lemhanas RI. Penyematan pin dilakukan oleh Gubernur Lemhanas RI Agus Widjojo dan disaksikan oleh Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri, Ketua Ikatan Alumni Lemhanas Agum Gumelar, para Menteri Kabinet Kerja, para pejabat yang mewakili lembaga tinggi negara, serta para pejabat eselon I dan II Kemenko PMK di Gedung Auditorium Gadjah Mada, Lemhanas, Jakarta, Kamis (5/9).

Gubernur Lemhanas RI Agus Widjojo menjelaskan penyematan tanda alumni kehormatan Lemhanas RI didasari oleh Peraturan Gubernur Lemhanas RI Nomor 3/2019 tentang Pemberian Tanda Alumni Penghormatan Lemhanas RI.

Tanda alumni kehormatan itu merupakan bentuk penghormatan Lemhanas RI kepada WNI yang tidak mengikuti program pendidikan reguler Lemhanas RI, namun telah memberikan darma bakti dan sumbang pemikiran yang luar biasa terhadap perkembangan Lemhanas RI khususnya dan pembangunan bangsa Indonesia pada umumnya.

"Sebagai WNI yang setia dan taat kepada Pancasila dan UUD RI 1945 serta memiliki integritas moral dan keteladanan, Ibu Puan Maharani telah mengabdi sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan selama lima tahun yakni periode 2014-2019. Beliau adalah menteri koordinator termuda sepanjang sejarah kabinet menteri di Indonesia," ujar Agus.

Sebagai sosok perempuan muda yang inovatif, Puan dinilai telah mampu memberikan kontribusi karya, pemikiran yang luar biasa dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Sebagai seorang menteri koordinator yang membawahi delapan kementerian, ia pun sanggup mengkoordinasikan pekerjaan berbeda di tiap-tiap kementerian dalam rangka mewujudkan cita-cita Presiden RI demi kemajuan bangsa.

Dalam orasinya, Puan menyampaikan pandangan tentang peran kebudayaan dalam era disrupsi untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Hal itu terkait erat dengan situasi saat ini serta tugas strategis yang dialamatkan dalam pembangunan manusia dan kebudayaan.

"Kita sedang memasuki era disrupsi yang penuh kegamangan dan keguncangan. Era di mana berbagai aturan, aktor dan nilai-nilai, berganti secara mendalam. Yang terjadi bukan saja pergantian generasi secara biologis, tetapi pergantian gaya hidup, jenis pekerjaan dan pandangan terhadap identitas diri," ujar Puan.

Menurutnya, inilah era di mana yang cepat akan menggantikan yang lambat. Kecepatan menjadi kata kunci perubahan sekaligus mantra era disrupsi.

"Perubahan kearah mana, dengan cara bagaimana dan untuk kepentingan siapa, itulah persoalan kebudayaan," tegas Menko PMK.

Membangun kemajuan Indonesia harus dilandasi dengan kebudayaan nasional yang kuat dan berkepribadian Bangsa Indonesia. Kebudayaan tidak semata-mata ditempatkan sebagai identitas, simbol status, dan semacamnya, akan tetapi kebudayaan difungsikan untuk membentuk cara berpikir, berperilaku, dan berkarya bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Untuk itu, tutur Puan, sangat penting memastikan agar negara menjamin terlaksananya pembangunan manusia Indonesia yang berkebudayaan Indonesia.

"Berkepribadian dalam kebudayaan Indonesia, berarti manusia dan budaya Indonesia yang menghormati nilai luhur budaya bangsa, memahami akar kepribadian bangsa, sebagai bangsa yang ramah, toleran, religius, dan bergotong royong," terangnya.

Namun demikian, berkepribadian dalam kebudayaan Indonesia juga tidak berarti anti budaya asing. Dengan kepribadian bangsa yang kuat, budaya asing akan dapat disaring dan dilarutkan dalam kebudayaan nasional.

Menko PMK menekankan bahwa cinta tanah air, bangsa, dan negara harus dibangun atas kesadaran dan pemahaman bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragam suku, budaya, bahasa, dan agama, yang hanya dapat dipersatukan oleh Pancasila.

"Kita perlu memperkuat interaksi   antar budaya di Indonesia untuk menghapus eksklusivisme dan berbagai prasangka antar kelompok budaya. Interaksi itu haruslah inklusif, melibatkan warga bangsa dari berbagai etnis, agama dan budaya," pungkas Puan.

Sementara daya tahan budaya sebuah bangsa ditentukan oleh kecerdasan kolektif dan kreativitas individual. Oleh sebab itu, membangun Indonesia membutuhkan kerja bersama serta gotong royong dari seluruh komponen bangsa.

Puan menekankan pentingnya pembangunan karakter bangsa. Nation and Character Building adalah bagaimana kita membangun ke-Gotong-royongan, yang dapat memberikan rasa cinta pada tanah air; yang memberikan rasa percaya diri sebagai bangsa; serta yang memberikan kesanggupan untuk berdikari dalam membangun kemajuan bangsa dan negara.

"Inilah arah Nation and Character Building Indonesia, yang perlu menjadi perhatian kita bersama di dalam membangun kemajuan Indonesia agar menjadi negara yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian," tandas Puan. (ANP)