Membaca Pidato Kontemplasi SBY dari Sisi Arah Politik Partai Demokrat

Rakhmatulloh • Tuesday, 10 Sep 2019 - 10:14 WIB
Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tadi malam menyampaikan pidato 'kontemplasi' di hadapan ribuan kader Demokrat di Cikeas, Bogor. Foto/SINDOphoto

JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tadi malam menyampaikan pidato 'kontemplasi' di hadapan ribuan kader Partai Demokrat di Cikeas, Bogor. Selain memiliki dimensi personal, SBY juga berharap pidatonya menjadi rujukan Pemerintahan Jokowi dalam mengambil kebijakan.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menganggap banyak penggalan pidato SBY yang bisa dibaca dari sisi komunikasi politik.

"Ada yang normatif, praktis, dukungan terhadap pemerintah (Jokowi) di periode kedua," ujar Adi saat dihubungi SINDOnews, Selasa (10/9/2019).

Menurut Adi, yang nomartif terbaca dari pernyataan SBY bahwa demokrasi tak mesti one person one vote, namun bisa dilakukan dengan musyawarah mufakat dalam menentukan keputusan politik strategis.

"Sementara yang praktis terkait dengan the winner take all secara ekstrim tak terlalu kondusif dalam sistem multipartai seperti Indonesia," jelasnya.

Adi menilai secara umum pidato SBY tadi malam adalah ajakan untuk bersama-sama membangun bangsa. Dia menyebut, pidato itu satu praktik politik yang pernah dilakukannya waktu menjadi presiden dua periode di mana pihak-pihak yang semula berseberangan diajak menjadi bagian dari pemerintahan.

"Karena dalam banyak hal prinsip politik kita memang guyup, mengedepankan asas musyawarah," tandasnya.

(Sumber: Sindonews)