Napak Tilas Hubungan BJ Habibie dengan Jerman dan Dunia Penerbangan

Nathania Riris Michico • Thursday, 12 Sep 2019 - 12:13 WIB

BERLIN - Presiden ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, wafat di Jakarta pada Rabu (11/9/2019), dalam usia 83 tahun. Habibie meninggal setelah dirawat di RSPAD Gatot Soebroto.

Kepergian Habibie tak hanya memberi duka bagi Indonesia, namun juga Jerman. Dia menyelesaikan gelar S3 dengan nilai rata-rata 10, di Rheinisc Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen, universitas teknik terbaik di Jerman.

Di lingkungan ahli aeronautic, aerospace, industri pesawat, dan ilmuwan internasional, Habibie dijuluki 'Mr Crack'. Julukan itu merupakan penghormatan para ahli atas temuannya yang dapat menghitung "crack propagation on random" sampai ke atom-atomnya, yang menjadi penyebab keretakan di badan, terutama sayap pesawat.

Temuan Habibie itu berawal dari jatuhnya pesawat Fokker 28 dan pesawat tempur Jerman, Starfighter F-104 G. Kasus itu menimbulkan kehebohan karena tak ada yang tahu penyebabnya.

Kala itu, Departemen Pertahanan Jerman menantang para ahli mencari penyebabnya. Namun, Habibie yang saat itu bekerja di perusahaan penerbangan Hamburger Flugzeugbau (HFB), Jerman, berhasil menemukan penyebabnya.

Dari situlah Teori Habibie, Faktor Habibie, dan Prediksi Habibie yang sangat populer lahir. Habibie menemukan teori itu pada 1965, saat usianya 28 tahun.

Temuan Habibie sangat bermanfaat bagi dunia penerbangan. Temuannya menjadi yang pertama di dunia penerbangan dan hingga kini masih digunakan industri pesawat terbang.

Prof Dr Ing B Lascka, ahli aerodinamika Jerman, dalam tulisannya menyebutkan, "crack propagation" temuan Habibie sangat penting dalam dunia penerbangan. Inilah sumbangan terbesar BJ Habibie dalam dunia dirgantara.

Berikut jejak hubungan dan kedekatan Habibie dengan Jerman, seperti diulas Deutche Welle (DW), Kamis (12/9/2019).

1. Hubungan erat dengan Jerman

BJ Habibie mendapat gelar Diplom Ingenieur (Insinyur) dari universitas teknik Jerman RWTH Aachen pada 1960. Pada 1965, dia mempertahankan disertasi di bidang teknik dirgantara, dan mendapat gelar Dr.-Ing, yaitu doktor di bidang teknik.

Hingga usia lanjut, BJ Habibie tetap berhubungan erat dengan Jerman.

2. Tetap aktif setelah tinggalkan jabatan politik

Pada 2012, BJ Habibie hadir di Global Media Forum, konferensi internasional yang diselenggarakan setiap tahun oleh Deutsche Welle. Kepada DW, BJ Habibie, yang dijuluki Bapak Teknologi, pernah menyatakan bahwa peluang mendapatkan pendidikan sekolah harus diberikan kepada semua warga tanpa pandang bulu.

3. BJ Habibie di jenjang politik Indonesia

Dari 1983 hingga 1998, BJ Habibie menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Pad 1998, dia diangkat menjadi Wakil Presiden oleh Soeharto, yang ketika itu baru dipilih kembali oleh MPR menjadi presiden Indonesia.

Setelah Soeharto mengundurkan diri di tengah kemelut krisis ekonomi, Habibie dilantik menjadi presiden ketiga Indonesia, jabatan yang dipangkunya hingga 1999.

4. Bersama politisi berbagai negara

Pada foto, tampak BJ Habibie ketika menjabat wakil presiden Indonesia sedang berjabat tangan dengan kanselir Jerman Helmut Kohl. Mereka mengadakan pembicaraan di sela-sela KTT ASEM II di London pada 1998.

5. Menyokong semua orang tanpa pandang suku, agama, dan ras

"Pembangunan yang akan mengandalkan sumber daya manusia tak boleh dibatasi hanya untuk pegawai negeri," kata Habibie, dalam wawancara dengan Deutsche Welle pada 2012.

Dia mengatakan, semua rakyat Indonesia berhak mengenyam pendidikan.

 

(Sumber : iNews.id)