Dalam Setahun, 27 Anak Menjadi Korban Perundungan di Semarang

• Monday, 16 Sep 2019 - 17:58 WIB

Semarang - Meski telah dinobatkan sebagai Kota Layak Anak (KLA) tingkat nindya oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), kasus perundungan atau perpeloncoan kepada anak rupanya masih jamak terjadi di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Dalam setahun masih ada 27 kasus perundungan terjadi di ''Kota Lumpia'. Sepuluh kasus terjadi di lingkungan sekolah, tujuh belas lainnya di lingkungan keluarga.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri mengatakan, khusus di lingkungan sekolah, rata-rata kasus perundungan masih didominasi antara murid kepada murid, dan hanya satu yang dilakukan guru kepada murid.

Contoh kasus yang paling sederhana, katanya, adalah kasus guru memarahi murid atau sampai pada tindakan fisik.

"Untuk kasus yang seperti itu (kekerasan fisik dari guru kepada murid), kami sudah pecat oknumnya," kata Gunawan di SMP 33 Semarang, Jawa Tengah, Senin (16/09/2019).

Sementara itu, Budi Satmoko, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Semarang menyebutkan, kasus perundungan kepada anak dalam lingkungan keluarga terjadi sebanyak tujuh belas kali tahun ini. Angkanya menurun dari tahun lalu, yakni sekitar 65 kasus.

"KDRT biasanya dilakukan oleh orang tua yang masih berusia 30-35 tahun," jelasnya.

Di sisi lain, Krisseptiani, Kepala Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Kota Semarang mengakui, sulitnya melakukan pencegahan terhadap tindakan perundungan tersebut.

Namun Krisseptiani mengatakan, pihak Pemkot telah menyiapkan sejumlah agenda dan langkah sistematis untuk  mengurangi kasus perundungan di kalangan anak tersebut.

Salah satunya adalah dengan menyediakan ruang konseling atau juga rumah pengaduan bagi anak-anak yang mengalami perundungan atau kekerasan di sekolah atau rumah.

"Anak-anak bisa melapor atau mengadukan aksi perundungan yang diterimanya ke PPT. Dan kami akan melakukan pendampingan," katanya.

Selain itu, Pemkot Semarang juga mendorong semua sekolah, mulai dari tingkatan sekolah dasar hingga menengah pertama untuk menjadi sekolah ramah anak.

Walikota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, setiap sekolah di Semarang nantinya akan memiliki agen-agen perubahan yang bertugas untuk mengadukan tindakan-tindakan perpeloncoan di sekolah kepada guru yang berwenang.

"Langkah ini juga dalam waktu dekat akan diterapkan dalam regulasi Perwal (peraturan walikota) supaya bisa segera terlaksana. Karena targetnya, tahun ini semua sekolah di Semarang (SD - SMP) akan menjadi sekolah ramah anak," pungkasnya. (FYR)