Terduga Penembak Mahasiswa Kendari adalah Reserse dan Intel

• Thursday, 3 Oct 2019 - 16:26 WIB

Jakarta - Tim investigasi Divisi Profesi dan Pengamanan Polri telah menetapkan enam anggota Polri sebagai terperiksa, dalam kasus tewasnya dua mahasiswa Kendari, Sulawesi Tenggara, saat aksi demonstrasi beberapa waktu lalu. Enam terperiksa itu terdiri dari satu Perwira, dan lima Bintara.

"Mereka dari petugas yang sifatnya tertutup reserse dan intelijen," tutur Kabagpenum Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra, di Mabes Polri, Kamis (3/10/2019).

Keenam terperiksa itu diduga telah melakukan kesalahan standar operasional prosedur (SOP) saat mengamankan demo mahasiswa menolak pengesahan RKUHP dan RUU kontrovesial lainnya di Kendari, 26 September lalu.

"Karena dia tidak taat pada ketentuan saat penanganan demonstrasi. Itu tidak boleh membawa senjata api," terang Asep.

Saat ini, pihak kepolisian masih berupaya melakukan pendalaman dan pemeriksaan kepada enam anggota Polri yang diduga melanggar tersebut.

Polisi juga telah menyita senjata api yang diduga telah digunakan para terperiksa, saat mengamankan aksi unjuk rasa di Kendari yang menyebabkan dua korban tewas tersebut.

Sebelumnya, aksi unjuk rasa ribuan massa gabungan dari sejumlah perguruan tinggi serta pelajar di Kota Kendari, Kamis (26/9) menyebabkan dua mahasiswa tewas.

Peserta unjuk rasa Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO) dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak di dada sebelah kanan Kamis (26/9) sekitar pukul 15:30 Wita.

Sedangkan korban Muh Yusuf Kardawi (19) meninggal dunia setelah menjalani operasi akibat luka serius dibagian kepala di RSUD Bahteramas, pada Jumat dini (27/9) sekitar 04:00 Wita. (FYR)