Gemini Man: Visual Canggih yang Filosofis

Marlene Karamoy • Saturday, 5 Oct 2019 - 22:00 WIB

Genre: Action

Sutradara: Ang Lee (Life of Pi, Brokeback Mountain, Crouching Tiger Hidden Dragon)

Pemeran: Will Smith, Mary Elizabeth Winstead, Clive Owen

Distributor: United International Pictures Indonesia (Paramount Pictures dan Universal Pictures)

Durasi: 2 jam

Format: 2D, 3D

Mulai tayang di bioskop Indonesia: 9 Oktober 2019

Proses alamiah penuaan sekali lagi 'dikalahkan' teknologi. Dalam cerita "Gemini Man", penembak jitu Henry Brogan (Will Smith) berencana pensiun dari pekerjaannya. Namun pada masa akhir pengabdiannya untuk negara, dia malah dikejar-kejar lawan misterius, yang mengirimkan prajurit tangguh bernama Junior (juga diperankan oleh Will Smith).

Henry yang berusia 50 tahun harus menghadapi rangkaian teror dengan pasukan terlatih, termasuk Junior yang berumur 20-an tahun. Uniknya, Junior bertampang sangat-sangat mirip dengan Henry versi muda, bahkan seperti kembar, bagai lambang rasi bintang gemini. 

Karena lebih belia, tentulah Junior mampu berlari lebih cepat, berkelahi lebih kuat, bahkan beraksi lebih nekat. 

Junior bukanlah robot humanoid dari masa depan. Tenang, tidak ada mesin waktu dalam kisah ini. Junior benar-benar manusia yang memang dilahirkan dan dilatih secara serius untuk meniru Henry. Dilahirkan, bukan diprogramkan di laboratorium komputer yang rumit. Dilatih, bukan sekadar ditanamkan kecerdasan buatan.

Bagaimana cara melahirkan Junior, dan apa motivasinya? Penjelasan tentang keberadaan Junior dan latar belakang untuk menghabisi Henry, akan dijawab lengkap dalam action-thriller ini. 

Saat berusaha mengikuti jawabannya, penonton akan disuguhi visual yang memanjakan mata. Tak hanya soal kemunculan tampilan Will Smith seperti saat masih bermain di serial televisi tahun 90-an, The Fresh Prince of Bel-Air, itu saja memang sulit dipahami oleh orang awam, tetapi juga sensasi menonton berbeda dari biasanya.

Bukan menggunakan tata rias, para sineas "Gemini Man" membuat karakter digital Will Smith, yang lebih segar, minim keriput, tanpa uban, tetapi ya tetap berciri khas dalam ekspresinya.

Penanggung jawab efek visual Guy Williams mengibaratkan, saat menyaksikan T-rex di layar lebar, atau pun monyet-monyet bicara dalam Planet of The Apes, penonton bisa menerimanya, karena tak ada yang pernah melihat T-rex secara langsung. Berbeda dengan Will Smith muda.

"Ketika menangani seseorang, itu jauh lebih sulit. Dan ini bukan orang biasa. Ini Will Smith. Saya tahu persis siapa Will. Kita semua tahu persis siapa Will. Kita tahu tentang dia sejak lama. Kita semua tahu, apakah teknologi ini meyakinkan atau tidak," jelas Williams.

Dengan penggodokan ide dan rangkaian uji coba teknis bertahun-tahun, Will Smith atau siapa pun dalam versi lebih muda, ternyata mampu diwujudkan di layar lebar.

“Meningkatkan 120 frame per seconds (Umumnya, pembuatan film menggunakan 24 frame per seconds) memberi kami informasi penting yang pada akhirnya memungkinkan untuk menciptakan Junior yang paling meyakinkan,” kata salah satu produser David Ellison. 

Sutradara Ang Lee juga memanfaatkan teknologi resolusi 4K dan 3D untuk menciptakan pengalaman menonton secara lebih jernih, lebih terasa riil dan dekat dengan adegan yang sedang terjadi, bahkan bagi penonton di bioskop yang tidak lengkap untuk memproyeksikan film dalam format 3D.

"Kombinasi dari elemen-elemen ini: 3D, sinematografi digital, frame rate tinggi, resolusi tinggi dan peningkatan kecerahan menjadi pengalaman menonton bioskop yang lebih nyata. Karena banyaknya elemen detail yang dikumpulkan, kami dapat langsung menampilkan karakter-karakter melalui frame rate tinggi," kata Lee.

Sementara itu, pemeran utama Will Smith menyebut, pemakaian teknologi akan mengubah proses pembuatan dan bagaimana menyaksikan film.

"Konsep Gemini Man adalah dua tokoh dari beda generasi diperankan oleh satu orang saja. Teknologinya tidak pernah ada sampai hari ini, waktunya tepat untuk mewujudkannya. Jadi ini benar-benar untuk pertama kalinya, visi film  Gemini Man secara teknologi dapat direalisasikan," terang Smith.

Hasilnya, penonton dibuat betah mengikuti jalan cerita sederhana, yang sebenarnya pernah tren pada tahun 90-an. Apalagi ditambah latar tempat berpindah-pindah ala petualangan agen intelijen, termasuk keindahan Situs Warisan Dunia UNESCO di Cartagena de Indias - Kolombia, dan ibukota Hungaria, Budapest.

Dengan adegan menegangkan, menebak-nebak siapa yang akan mati, siapa yang akan hidup, siapa yang akan membelot, siapa yang setia, siapa di balik apa, Gemini Man dipenuhi dialog filosofis tentang makna menjadi manusia seutuhnya, sekaligus relasi dan interaksi antargenerasi.

(MAR)