12 Korban Perdagangan Orang Dari Bandung Direhabilitasi

• Monday, 7 Oct 2019 - 11:29 WIB

Jakarta -  "Aku pulang ke Jakarta ya bu, pengen ketemu mamah dan kakak saya yang tinggal di Jakarta,” kata salah satu remaja, TS (14). Ia berbicara kepada Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Watunas (BRSW) Mulya Jaya Jakarta Wena Sitepu dengan wajah sumringah.

TS yang sangat bahagia ini adalah satu dari 12 remaja yang saat ini berada di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya (RSBK) Kediri milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.

Remaja ini merupakan titipan Polres Situbodo Jawa Timur karena kasus perdagangan orang (Trafficking).

Dalam rilisnya, Sabtu (5/10/2019) Wena menjelaskan, "Mereka dari malam sudah tidak ada yang tidur bu...beres beres barang yang akan dibawa ke Jakarta. Bahkan dari pagi ada yang tidak mau makan dan tidak mau mandi karena sudah pengen banget buru-buru berangkat ke Jakarta. Ibu sudah ditungguin anak anak dari subuh,"

Hal itu menurut Wena dikatakan salah seorang satpam UPT, Sarno ketika menyambut kedatangan rombongan Kepala BRSW Mulya Jaya di UPT Kediri.

Kasus ini bermula saat Polres Situbondo menyelamatkan 12 perempuan asal Bandung dari tempat karaoke yang diduga menjadi korban perdagangan orang (Traffiking). 

Sari 12 perempuan ini 11 di antaranya usia anak dan satu orang dewasa.

"Menurut  pengakuan mereka kepada Polisi mereka berasal dari Bandung, tapi tidak dibuktikan dengan adanya identitas," kata Wena. 

Wena menambahkan polisi mengamankan anak anak remaja ini di Desa Kotakan, Kecamatan Kota Situbondo, Jawa Timur karena adanya laporan warga masyarakat kepada Polisi.

Menurut Wena, mereka dipekerjakan sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil) akan tetapi mereka seolah-olah tinggal dan bekerja di rumah karaoke.

"Mereka dititipkan oleh Polres Situbondo di UPT RSBK Kediri sejak tanggal 2 Agustus 2019. Selama dua bulan mereka di UPT RSBK Kediri mendapatkan layanan rehabilitasi sosial dasar," terangnya BRSW Mulya Jaya, lanjut Wena, juga mengirimkan tim Pekerja Sosial BRSW Mulya Jaya untuk melakukan respon kasus untuk mengetahui latar belakang permasalahannya sekaligus melakukan Assesmen. Selanjutnya tim Balai juga melakukan Trauma Healing dan Terapi Psikososial terhadap anak anak remaja tersebut.

Kondisi psikologis awal 12 remaja ini ketika pertama diamankan pihak Polisi memprihatinkan, mereka mengalami cemas, takut, murung dan gelisah akan keadaannya saat itu, karena menurut pengakuan mereka selama ini merekalah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Selama mereka bekerja di karaoke itu mereka selalu rutin mengirimkan uang kepada keluarganya di Bandung. Bila dilihat secara fisik penampilan 12 remaja ini terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya, dimana tubuh anak anak ini sudah dipenuhi gambar tattoo, walaupun karakter dan perilaku anak masih melekat pada diri mereka. Wena menjelaskan setelah melalui proses pemeriksaan dan pemberkasan oleh Polres Situbondo dan Kejaksaan Negeri Jawa Timur, pada tanggal 3 Oktober 2019 dilakukan Case Confrence (CC) terhadap kasus dan kondisi yang dialami oleh 12 anak perempuan ini dan tindak lanjut penanganan yang harus dilakukan. Berdasarkan hasil CC dan berdasarkan hasil assessment maka peserta rapat memutuskan bahwa 12 anak ini harus segera dirujuk ke BRSW Mulya Jaya untuk mendapatkan layanan Rehabilitasi lanjut.

Kegiatan Case Conference dihadiri perwakilan Polres Situbondo, Polres Jawa Barat, Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Dinas Pemberdayaan Anak dan Perempuan Provinsi Jawa Barat, Sakti Peksos Situbondo dan perwakilan BRSW Mulya Jaya Jakarta. Setelah mendapatkan hasil CC dan berkoordinasi dengan Kepala UPT RSBK Kediri maka Tim Kepala BRSW Mulya Jaya segera berangkat ke Kediri untuk melakukan penjangkauan terhadap 12 anak perempuan ini untuk dibawa ke BRSW Mulya Jaya Jakarta. Sejak Juli 2019 sampai Oktober 2019 BRSW Mulya Jaya Jakarta telah menerima 70 orang korban Trafficking yang dirujuk dari berbagai daerah seperti Pontianak, Batam, Indramayu, Cianjur, Medan, Jakarta dan Kediri. Hampir semua yang menjadi korban adalah perempuan muda yang putus sekolah dan orangtua yang broken home. Kedepannya Balai akan lebih memfokuskan untuk sosialisasi pencegahan korban trafficking.

"Kami menyiapkan program rehabilitasi sosial lanjut di luar Balai yang fokusnya kepada Family Suport dan Social Care, karena bagaimanapun dukungan keluarga dan peran serta masyarakat sangat penting untuk mencegah terjadinya anak anak menjadi korban trafficking," tutur Wena. (ANP)