Kunjungan ke Indonesia, Perdana Menteri Belanda Komitmen Tingkatkan Kerjasama di Bidang Pendidikan

• Tuesday, 8 Oct 2019 - 23:06 WIB

JAKARTA — Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengunjungi Indonesia pada Senin, 7 Oktober 2019, selama persinggahan satu hari dalam perjalannya ke Australia dan Selandia Baru. Tujuan kunjungannya untuk menegaskan kembali hubungan bilateral yang kuat antara Indonesia dan Belanda.

Nuffic Neso Indonesia selaku organisasi Belanda di Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan tinggi, menyambut baik dukungan Perdana Menteri Rutte untuk respon positif terhadap minat Indonesia melibatkan Belanda dalam pengembangan sumberdaya manusia di bidang pendidikan.

Agenda kunjungan Perdana Menteri pada pagi hari membahas pentingnya pengembangan sumberdaya manusia dengan sektor bisnis Belanda, diikuti oleh pertemuan dengan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, di Istana Bogor.

Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Rutte berbicara tentang peningkatan kemitraan antara Indonesia dan Belanda lebih jauh. Dalam bidang pendidikan, misalnya, menggarisbawahi kesepakatan kedua pemimpin untuk berkolaborasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan antara kedua negara ini.

Dalam jumpa pers, Perdana Menteri mengatakan ada banyak ikatan historis di antara kedua negara, tetapi kedua pihak juga menjalin banyak ikatan baru, melalui program studi di Belanda salah satunya. “Berinvestasi dalam sumberdaya manusia menjadi semakin penting bagi Indonesia terutama di bidang pendidikan kejuruan,” katanya.

Selama konferensi pers, Presiden Jokowi menekankan Indonesia dan Belanda membahas upaya untuk meningkatkan kemitraan di bidang pendidikan kejuruan, termasuk bidang pekerjaan umum, maritim, dan keperawatan.

Sementara itu, agenda di sore hari dilanjutkan dengan kunjungan Perdana Menteri Rutte ke Indonesia Port Corporation (IPC) dan ke salah satu universitas di kota Bogor.

Dalam kunjungan ke IPC yang berkaitan dengan pendidikan tinggi, Perdana Menteri Rutte menyampaikan kegembiraannya karena pada Juni tahun depan akan mengadakan acara khusus yang bertajuk WINNER atau The Week for Indonesian-Netherlands Education and Research.

“Ini merupakan akronim yang tepat, karena kedua negara kita akan menjadi pemenang jika kita dapat saling menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki,” ujarnya.

Kunjungan Perdana Menteri ke Indonesia diakhiri dengan networking dinner yang diadakan di Kedutaan Besar Belanda, yang juga kantor Nuffic Neso Indonesia berada. Selama sesi meet and greet, beberapa alumni Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikannya di Belanda berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Perdana Menteri.

Perdana Menteri mengatakan alumni dari program studi di Belanda adalah duta besar yang sangat baik untuk memberikan peluang yang akan muncul dari kerjasama Indonesia dan Belanda. Ia secara khusus menyebutkan pentingnya beasiswa StuNed (Studeren in Nederland).

“Di dunia pendidikan, koneksi baru ditempa setiap tahun. Tahun ini saja, terdapat 1,500 anak muda Indonesia yang belajar di Belanda. Dan sebaliknya, banyak siswa belanda memilih untuk pergi ke Indonesia untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman,” paparnya.

“Hal ini sangat fantastis, berarti kita
tidak hanya berbagi pengetahuan yang berharga, tetapi kita juga mendapatkan wawasan lebih banyak tentang cara hidup, berbudaya, dan melakukan praktik bisnis,” lanjutnya.

Nuffic Neso Indonesia telah mengelola program StuNed sejak tahun 2000. Program ini telah menghasilkan lebih dari 4,500 alumni, banyak di antaranya menempati posisi strategis di pemerintahan, sektor korporasi, atau masyarakat sipil.

Intitusi pendidikan tinggi Indonesia dan Belanda sering memiliki hubungan kolaboratif yang telah lama terjalin. Belanda adalah salah satu tujuan popular bagi pelajar dan peneliti Indonesia untuk belajar di luar negeri.

Mobilitas siswa Belanda yang masuk ke Indonesia juga semakin meningkat dan semakin dipromosikan oleh universitas Indonesia. Nuffic Neso Indonesia siap untuk mendukung keterlibatan yang lebih besar dalam pendidikan, penelitian, inovasi, dan membantu menumbuhkan hubungan yang saling menguntungkan antara Indonesia dan Belanda. (ANP)