Jatim Fair, Pesta Rakyat Yang Tak Merakyat

• Wednesday, 9 Oct 2019 - 14:02 WIB

Surabaya - Perhelatan Jatim Fair yang merupakan agenda tahunan Pemprov Jatim menjelang hari ulang tahunnya, mendapatkan sorotan miring dari berbagai kalangan. Pelaksanaan yang memasuki tahun ke-10 itu dinilai Umar Sholahudin dari Parliement Watch Jatim sebagai acara yang tidak diperuntukkan bagi masyarakat bawah. 

Pelaksanaan di Mall kelas premium, pertunjukan musik yang disertai dengan harga ticket lumayan mahal tidak lagi mencerminkan  pesta rakyat. Harusnya rangkaian kegiatan Jatim Fair yang dikaitkan dengan HUT Provinsi Jatim dibuat lebih membumi dan bisa dinikmati masyarakat, tanpa harus mengeluarkan biaya. 

"Jatim Fair kan pesta rakyat, tapi kesannya kok tidak ada. Bahkan lebih terlihat sebagai tontonan masyarakat elit. Musiknya juga harus membayar,  sehingga menjadi acara yang tidak beda dengan acara konser saja," ujar Umar Sholahudi . 

Seharusnya menurut Umar Sholahudin, pesta rakyat ulang tahun Jatim digelar  secara serempak di seluruh Jatim. Khusus untuk daerah yang tertinggal, Pemprov Jatim harus mensuport sehingga daerah yang bersangkutan bisa menjadi penyelenggara yang baik dan menggerakkan ekonomi Jawa Timur. Tidak seperti saat ini, dimana pelaksanaannya di Surabaya dan sekitarnya yang dinilai sudah sangat maju. 

"Harusnya daerah tertinggal menjadi prioritas penyelenggaraan Jatim Fair. Sehingga roda ekonominya bisa bergerak selain juga memberikan hiburan untuk masyarakat setempat," tutur Umar Sholahudin yang juga Dosen Universitas Sunan Ampel Surabaya tersebut. 

Terkait dengan target transaksi yang mencapai Rp.100 miliar dengan jumlah pengunjung mencapai 125 ribu orang, Umar menandaskan bahwa target tersebut terlalu over. Ditengah kondisi ekonomi Jatim yang lesu, daya beli masyarakat rendah, target yang dicanangkan Gubernur Jatim saat membuka acara tersebut akan berat untuk tercapai. 

"Saat ini pertumbuhan ekonomi Jatim menurun hanya 5,4  persen, daya beli juga rendah. Nah kondisi tersebut kok diharapkan bisa mencapai transaksi 100 milliar dan  jumlah pengunjung lebih dari 100 ribu sangat berat," imbuh Umar. 

Kedepan Umar berharap Pemprov Jatim melakukan evaluasi dan kajian untuk penyelenggaraan Jatim Fair digelar di luar kota Surabaya.

"Akan lebih menarik jika digelar di Madura, Ngawi, atau Pacitan yang dikenal sebagai daerah tertinggal. Sehingga kesan pesta rakyatnya riil dan bukan seperti saat ini, pesta rakyatnya absurd " pungkas Umar Sholahudin. (hermawan)