Brigadir AM Ditetapkan Sebagai Tersangka Tewasnya Dua Mahasiswa Kendari

• Thursday, 7 Nov 2019 - 14:51 WIB

Jakarta - Polisi menetapkan satu orang tersangka kasus tewasnya dua mahasiswa pasca-demo ricuh di depan Gedung DPRD Sultra. Penetapan tersangka dilakukan berdasarkan pencocokan selongsong peluru dengan senjata api yang dibawa tersangka.

Anggota Satreskrim Polres Kendari, Brigadir AM diduga kuat sebagai pemilik selongsong peluru tersebut.

"Dari hasil uji balistik terhadap selongsong peluru disandingkan dengan enam senjata api yang diduga dibawa oleh anggota Polri ditemukan keidentikkan," kata Kasubdit V Dirpidum Bareskrim Kombes Chuzaini Patoppoi dalam jumpa pers di Mabes Polri, Kamis (7/11/2019).

Dari enam senjata yang dijadikan barang bukti, dua senjata identik dengan dua proyektil dan dua selongsong yang ditemukan di lapangan.

Proyektil dan selongsong tersebut dengan senjata api jenis HS yang diduga dibawa oleh Brigadir AM.

"Berdasarkan fakta tersebut kami penyidik sudah melakukan gelar perkara dan menyimpulkan untuk brigadir AM telah ditetapkan sebagai tersangka," ucapnya.

Brigadir AM disangkakan Pasal 351 ayat 3 KUHP dan/atau Pasal 359 KUHP subsider Pasal 360 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 7 tahun.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, tersangka akan langsung dibawa ke Bareskrim Polri untuk dilakukan pemeriksaan dan pendalaman.

"Lima alat bukti yang dimiliki penyidik tersebut untuk membuat kesimpulan menetapkan orang sebagai tersangka itu nanti akan diuji semuanya di persidangan. Diuji langsung oleh hakim apakah semua alat bukti yang dihadirkan oleh penyidik kemudian penyidik menetapkan tersangka itu memiliki koneksi atau tidak," katanya.

Namun demikian, Dedi enggan berkomentar lebih jauh apakah yang bersangkutan nantinya akan langsung dibebas-tugaskan dari jabatan atau tidak.

Dalam kasus ini, polisi telah memeriksa 25 orang saksi termasuk dua ahli, yakni dua orang dokter yang memeriksa mahasiswa Randi dan Yusuf saat berada di rumah sakit.

Hasilnya, Randi dinyatakan tewas akibat tertembak, sedangkan Yusuf tewas akibat terhantam benda tumpul. Serta satu orang ibu hamil, Putri, tersasar peluru tajam saat berada di dalam rumahnya, yang berjarak sekitar 2 sampai 3 kilometer dari titik demonstrasi.

Dalam penanganan pengusutan kasus ini, polisi juga menggelar sidang disiplin terhadap 6 anggota polisi lainnya, yakni DK, GM, MI, MA, H, dan E. Mereka terbukti melakukan pelanggaran etik saat melakukan pengamanan unjuk rasa mahasiswa di DPRD Sultra. (FYR)