Pemanfaatan Model Crowdsourcing Sebagai Konsep Efektif untuk Perkembangan Laju Bisnis

FAZ • Thursday, 6 Jun 2024 - 18:17 WIB

JAKARTA - Crowdsourcing adalah konsep bisnis yang mengandalkan banyak orang. Yang mana sumber produksi ide ataupun layanan yang bukan hanya dibuat oleh satu orang. Saat ini sudah cukup banyak ditemui perusahaan startup yang menjalankan bisnis dengan model ini.

SweetEscape merupakan start up yang sudah berdiri sejak tahun 2017 yang didirikan oleh David Soong dan Emile Etienne. SweetEscape merupakan sebuah platform yang menghubungkan fotografer dengan klien yang membutuhkan jasa fotografi diseluruh dunia, mulai dari kebutuhan di dalam negeri hingga kebutuhan di luar negeri. Jasa yang ditawarkan merupakan jasa fotografi mulai dari momen-momen perorangan, seperti liburan, ulang tahun, wisuda, wedding, proposal dan lain-lain.

David Soong selaku CEO dari SweetEscape menyampaikan bahwasanya SweetEscape ini bukanlah keseluruhan orang Indonesia, tim juga terdiri dari orang lokal di negara luar. Selain itu, SweetEscape ini tidak hanya melayani potret untuk holiday ataupun potret graduation saja, namun kini SweetEscape juga melayani banyak projek untuk potret seperti Corporate gathering events dll. Jadi SweetEscape ini 100% crowdourcing yang dimana home office berfokus pada teknologi, fokus pada editing, fokus pada costumer service dll, namun operasional untuk delivering decervices semuanya melalui konsep crowdsourcing.

SweetEscape memiliki lebih dari 10.000 fotografer lokal profesional yang tersebar di lebih dari 500 kota diseluruh dunia.

Beralih ke bisnis berbasis produk dan jasa lainnya, *Dekoruma* hadir sebagai perusahaan berbasis teknologi desain dan interior rumah yang menyediakan produk maupun jasa. 

Dekoruma memiliki 2 jenis produk utama, yang pertama ada retail yang menyediakan sofa, piring, sendok, garpu dan lainnya. Lalu yang kedua ada jasa desain dan interior.

"Konsep crowdsourcing pada Dekoruma ini sebetulnya ada pada teknologi dibelakangnya yang membantu memudahkan kami dalam segi komunikasi, transparansi baik dalam segi suply dan demaintnya. Kami tentu saja tidak berdiri sendiri, tetapi kami juga bekerjasama dengan lebih dari 500 brand partner yang menyediakan piring, sendok, garpu hingga cat tembok.” ungkap Dimas Harry selaku CEO Dekoruma.

Contoh lain dalam pemanfaatan crowdsourcing pada Dekoruma ini sendiri adalah penggunaan tool thudio yang membantu para designer dalam memudahkan mereka saat melakukan design/dekor.

Beralih ke perusahaan jasa dan produk berbasis crowdsourcing lainnya, Garasi.id adalah perusahaan berbasis business to business (B2B) yang menyediakan layanan "engine and transmission warranty provider" atau penjaminan mesin dan transmisi mobil bekas, jasa inspeksi, layanan towing, jasa, dan servis perawatan mobil. Bermula dari sebuah ide untuk membuat sebuah platform berbasis e-commer yang berbasis online untuk membuat pengalaman berbelanja dll. 

"Model CrowdSourcing merupakan model yang tepat digunakan dalam bisnis Garasi.id ini. Karena bukan hanya sekedar model vendor dan suplyer dan costumer relationship tetapi memang sesuai dengan misi kami yaitu partnership ecosystem fokcus. Saat ini berdasarkan data statistik kami memiliki lebih dari 600 partner jasa service dan inspeksi. Karena fokus kami ialah mobil bekas maka kami juga banyak menjalin kerja sama dengan dealer partner dan juga lembaga pembiayaan dan ansuransi yang juga menjadi ekosistem yang mendukung perkembangan bisnis ini.” tutup Ardyanto Alam selaku CEO dari Garasi.id. (von)